Kamis, 17 Mei 2012

الخلاصة النحوية



KALAM (الكلام)
Kalam Ialah Lafadz Yang Tersusun,Yang memberi faedah (Pengertian) Serta disengaja.
Lafadz                 : Suara yang mengandung sebagian huruf –huruf hijaiyyah
Tersusun              : Lafadz Yang tersusun dari dua kalimat (kata) atau lebih
Memberi Faedah : Ucapan yang memberikan pengertian atau pemahaman
Disengaja             : Artinya orang yang mengucapkan harus dalam keadaan sadar
Contoh            : نَصَرَ زَيْدٌ  -  زَيْدٌ كَلْأَسَدِ
KALAM ADA TIGA :
1. Kalimat Isim                       2. Kalimat Fi’il                        3. Kalimat Huruf
Berikut adalah definisi kalimat-kalimat tersebut beserta tandanya

1.    Kalimah Isim (Kata Benda)
Ialah kalimat yang menunjukkan arti nama atau benda tanpa di sertai keterangan waktu.
Contoh       : مَدْرَسَةٌ  (Sekolah), مِمْسَحَــةٌ  (Penghapus)

Tanda-Tanda Isim ada Lima :
1.      Menerima Tanwin,Contoh                  : هٰذَا قَلَمٌ
2.      Menerima ال,Contoh                           : اِشْتَرَيــْتُ اْلقَلَمَ
3.      Meneriama Huruf Jer, Contoh            : كَـَتَــبْتُ بِاْلقَلَمِ
4.      I’rob Jer, Contoh                                 : سَأَلْــتُ زَيــْدًا اِسْمَ اْلقَلَمِ
5.      Musnad Ilaih, (ada Tiga) :       a) Mubtada’                : الْقَلَمُ جَدِيـْدٌ                     
b) Fail                          : سَقَطَ اْلقَلَمُ عَنِ اْلَمكْــتَبِ
                                                            c) Idlofah (mudlof)[1]    : رَأَيــْتُ قَلَمَ زَيـْـدٍ – كِتاَبُ اْلفَراَئِضِ
- Fungsi huruf jer adalah mengejerkan kalimat isim sesudahnya, Adapun Huruf - Huruf Jer ada sepuluh yaitu :
No
Amil
Arti
Contoh
Jawa
Indonesia
1
مِنْ
Awit/setengah Saking
Dari
رَجَعْتُ مِنَ اْلبَيْتِ
2
اِلٰى
Tumeko Maring
Sampai Pada/ke
اَذْهَبُ اِلى اْلمَدْرَسَةِ
3
عَنْ
Andoh Saking
Dari
رَمَيْتُ السَّهْمَ عَنِ اْلقَوْسِ
4
عَلٰى
Ingatase
Atas
وَعَلى الْفُلْكِ تُحْمَلُوْنَ
5
فِى
Ingdalem/kerono
Di dalam
اِعْتَكَفْتُ فِى اْلمَسْجِدِ
6
رُبَّ
Pirang pirang
Banyak
رُبَّ رَجُلٍ اَحْسَنْتَهُ
7
البَاءْ
Kelawan/sebab
Dengan
ذَهَبْتُ بِزَيْدٍ
8
الكَافْ
Koyo/kerono
Seperti
مُحَمَّدٌ كَلْبَدْرِ
9
اللاَّم
Keduwe/kerono/maring
Bagi
اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ
10
حَرْفُ قَسَم1.الوَاوُ
Demi
Demi
وَاللهِ
            2.الباَءْ
بِاللهِ
            3.التَّاءْ
تاَللهِ

2.    Kalimah Fi’il (Kata Kerja)
Ialah kalimah yang menunjukkan  sesuatu  pekerjaan yang di sertai dengan keterangan waktu.
Tanda-Tanda Kalimah Fi’il ada Empat, Yaitu dapat kemasukan :
1.      قَدْ  (qod), masuk  pada fi’il      : Madli (Bermakna تَحْقِيْق  /  Sungguh)  
  Contoh : قَدْ نَصَرَ زَيـْـدٌ
: Mudlori’ (Bermakna تَقْلِيْل / Terkadang)
  Contoh : قَدْ يَقْرَءُ عَمْرٌو الكِتاَبَ
2.      س  (Sin), Masuk pada fi’il mudlori’. Contoh               : سَيَفْتَحُ زَيْدٌ الباَبَ
3.      سَوْفَ (Saufa), Masuk pada fi’il mudlori’. Contoh        :  سَوْفَ يَقُوْمُ عَلِىٌّ
4.      تاَءْ تَأْنِيْث سَاكِنَةْ[2], Masuk pada fi’il madli. Contoh              : قاَمَتْ زَيْنَبُ

3.    Kalimah Huruf (Kata Keterangan/Sambung)
Ialah kalimah yang tidak bisa berdiri sendiri (Tidak dapat di fahami) kecuali dengan menggandengnya dengan lafadz lain.
Tanda-Tanda kalimah huruf adalah tidak menerima tanda isim dan fi’il
Contoh       : اِلىَ  -  فِى  -  مَا  -  وَ  -  عَلىَ
I’ROB (اعراب)
I’rob adalah perubahan akhir kalimah karna berbeda-bedanya amil yang masuk ke dalamnya, berubah secara jelas atau perkiraan saja.
 Contoh :               
-       Berubah secara jelas                       :  زَيـْدٌ قَاِئمٌ  -  نَصَرْتُ زَيـْدًا  -  مَرَرْتُ بِزَيـْدٍ              
-       Berubah secara perkiraan               : جَاءَ اْلفَتىَ  - اِجْتَهَدَ اْلقَاضِى
I’rob ada empat :
No
I’rob
Tanda Asli
Masuk pada
Contoh
1
Rofa’
Dlommah
Isim dan Fi’il
زَيـْدٌ قَاِئمٌ
2
Nashob
Fathah
Isim dan Fi’il
نَصَرْتُ زَيـْدًا
3
Jer
Kasroh
Isim
مَرَرْتُ بِزَيـْدٍ
4
Jazem
Sukun
Fi’il
لَمْ َينْصُرْ عَلِىٌّ


MENGETAHUI TANDA I’ROB (مَعْرِفَةُ عَلاَمَةِ اْلإِعْرَاب)
v  I’rob Rofa’ mempunyai empat tanda :
1.      Harokat Dlommah
2.      Huruf Wawu
3.      Huruf Alif
4.      Huruf Nun

1.    Harokat Dlommah menjadi tanda I’rob rofa’ bertempat pada empat tempat :

No
Rofa’ dengan dlommah
Keterangan
Contoh
1
Isim Mufrod
(اسم مفرد)
Ialah Kalimat Isim Yang Menunjukkan Arti
Satu
هذَا مَسْجِدٌ
2
Isim Jama' Taksir
(اسم جمع تكسير)
Banyak,Dan Berubah Dari Bentuk Mufrodnya
جَاءَ رِجاَلٌ
3
Isim Jama' Mu'annas Salim
(اسم جمع مؤنث سالم)
Banyak,Mendapat Tambahan Alif & Ta' Di Akhir
قَامَتْ مُسْلِمَاتٌ
4
Fi’il Mudlori’
(فعل مضارع)
Tidak Bertemu sesuatu (Alif Tasniyyah, Wawu jama’, Ya’ mu’annats mukhotobah)
يَجْلِسُ اْلأُسْتاَذُ

2.    Huruf Wawu menjadi tanda I’rob rofa’ bertempat pada Dua tempat :
Rofa’ dengan huruf Wawu
Keterangan
Contoh
Isim Jama' Mudzakkar Salim
(اسم جمع مذكر سالم)
Ialah Kalimat Isim Yang Menunjukkan Arti Banyak,Mendapat Tambahan Wawu & Nun Ketika Rofa', Serta Tambahan Ya' & Nun, Ketika Nashob dan Jer
الـمُـسْلِمُوْنَ قَاِئمُوْنَ
Asma'ul Khomsah
(اسماء الخمسة)
Yaitu Isim-Isim Yang Ada Lima,
   ذُوْ ,أَبٌ , أَخٌ , حَمٌ , فُوْ
أَبُوْكَ حَاضِرٌ

3.    Huruf Alif  menjadi tanda I’rob rofa’ bertempat pada Satu tempat Yaitu :
Isim Tasniyyah (اسم تثنية) ialah Kalimat Isim Yang Menunjukkan Arti Dua, Mendapat Tambahan Alif & Nun Ketika Rofa' Serta Tambahan Ya' & Nun Ketika Nashob dan Jer.
Contoh       : حَضَرَ مُسْلِماَنِ


4.    Huruf Alif  menjadi tanda I’rob rofa’ bertempat pada Satu tempat Yaitu :
Af’alul Khomsah (افعال الخمسة) ialah Fi’il-Fi’il Mudlori’ yang bertemu Alif Tasniyyah, wawu jama’ dan ya’ mu’annats mukhotobah. (يَفْعَلاَنِ  -  تَفْعَلاَنِ  -  يَفْعَلُوْنَ  -  تَفْعَلُوْنَ  -  تَفْعَلِيْنَ    )

v  I’rob Nashob mempunyai lima tanda :
1.      Harokat Fathah
2.      Huruf Alif
3.      Harokat Kasroh
4.      Huruf Ya’
5.      Terbuangnya Huruf Nun

1.    Harokat Fathah  menjadi tanda i’rob Nashob bertempat pada tiga tempat :
No
Nashob dengan fathah
Keterangan
Contoh
1
Isim Mufrod (اسم مفرد)
يُعَلِّمُ اْلأُسْتَاذُ
2
Isim jama’ taksir (اسم جمع تكسير)
يَتَعَلَّمُ التَّلاَمِيْذُ
3
Fi’il Mudlori’
(فعل مضارع)
Yang kemasukan amil nawashib,dan akhirnya tidak bertemu sesuatu
تَذْهَبُ اْلمُعَلِّمَاتُ

2.    Huruf Alif  menjadi tanda i’rob Nashob bertempat pada satu tempat yaitu :
Asma’ul Khomsah (اسماء الخمسة).
Contoh       : نَصَرْتُ أَخاَكَ

3.    Harokat Kasroh  menjadi tanda i’rob Nashob bertempat pada satu tempat yaitu: Isim Jama’ Mu’annats Salim (اسم جمع مؤنث سالم).
Contoh       : رَأَيــْتُ مُسْلِماَتٍ

4.    Huruf Ya’  menjadi tanda i’rob Nashob bertempat pada dua tempat yaitu :
No
Nashob dengan Ya’
Contoh
1
Isim Tasniyyah (اسم تثنية)
رَأَيــْتُ اْلمُسْلِمَيـْــنِ
2
Isim Jama’ Mudzakkar Salim (اسم جمع مذكر سالم)
رَأَيـْتُ اْلـمُسْلِمِيــْنَ
5.    Terbuangnya huruf nun  menjadi tanda i’rob Nashob bertempat pada satu tempat yaitu :
Af’alul khomsah (افعال الخمسة).
Contoh : لَنْ يفْعَلاَ  -  لَنْ تَفْعَلاَ  -  لَنْ يَفْعَلُوْا  -  لَنْ تَفْعَلُوْا  -  لَنْ تَفْعَلِيْ    

v  I’rob Jer mempunyai tiga tanda :
1.      Harokat Kasroh
2.      Huruf Ya’
3.      Harokat Fathah

1.    Harokat kasroh  menjadi tanda i’rob jer bertempat pada tiga tempat :
No
Jer dengan kasroh
Contoh
1
Isim Mufrod munshorif (menerima tanwin)
(اسم مفرد منصرف)
مَرَرْتُ بِرَجُلٍ
2
Isim Jama’ taksir munshorif (menerima tanwin) (اسم جمع تكسير منصرف)
مَرَرْتُ بِرِجاَلٍ
3
Isim Jama’ mu’annats salim (اسم جمع مؤنث سالم)
مَرَرْتُ بِالْمُؤْمنِاَتِ

2.    Huruf  Ya’  menjadi tanda i’rob jer bertempat pada tiga tempat :
No
Jer dengan huruf  ya’
Contoh
1
Asma’ul Khomsah (اسماء الخمسة)
نَظَرْتُ اِلَى أَخِيْكَ
2
Isim Tasniyyah (اسم تثنية)
مَرَرْتُ بِمُؤْمِنَيْنِ
3
Isim Jama’ Mudzakkar salim (اسم جمع مذكر سالم)
مَرَرْتُ بِمُسْلِمِيْنَ

3.    Harokat fathah menjadi tanda i’rob jer bertempat pada satu tempat yaitu :
Isim Ghiru munshorif - اسم غير منصرف - (Isim yang tidak menerima tanwin) ialah Isim yang di dalamnya terdapat dua ‘illat far’iyyah (yang satu kembali pada makna dan yang satu kembali pada lafadznya), atau hanya satu ‘illat yang sudah mencukupi sebagaimana dua ‘illat.




Ø Satu ‘illat yang dapat mencegah tanwin pada kalimat isim itu ada dua :
Dengan Satu ‘Illat
Keterangan
Contoh
Alif  Ta’nits
(ada dua)
(الف تأنيث)
Maqshuroh
(مقصورة)
ialah alif  yang menunjukkan makna perempuan
yang setelahnya tidak ada hamzah.
حُبْلٰى  -  عَطْشىٰ صُغْرىٰ
Mamdudah
(ممدودة)
yang setelahnya terdapat hamzah.
صَحْرآءَ  -  حَمْرآءَ
Shighot Muntahal Jumu'
(صيغة منتهى الجموع)
Ialah shighotnya isim jama’ taksir yang sudah tidak dapat di jama’kan lagi. yaitu jama’ taksir yang mana setelah alif  taksirnya ada dua huruf atau tiga huruf, namun, huruf  yang tengah mati.
Wazan itu adalah :
 فَواَعِلُ – مَفاَعِيْلُ – مَفاَعِلُ – فَعاَلِيـْلُ – فَعاَلِلُ - فَعَائِل
دَراَهِمَ  -  مَصاَبِيْحَ

-       Alif Ta’nits cukup dengan ‘illat dirinya sendiri, karena alif  itu menunjukkan pada  ta’nits (perempuan) ini sama dengan ‘illat ma’nawi, dan alif  itu selalu menetap pada isim yang di masukinya (tidak pernah di lepas), ini sama dengan ‘illat lafdzi.
-       Shighot Muntahal Jumu' cukup dengan ‘illat dirinya sendiri, karena jama’ itu sama dengan ‘illat ma’nawi, dan ia adalah jama’ yang terakhir dan tidak dapat di jama’kan lagi. Ini sama dengan ‘illat lafdzi.

Dua ‘illat yang dapat mencegah tanwin pada kalimat isim yaitu, ‘illat lafdzi bersamaan dengan ‘illat ma’nawi washfiyyah (isim sifat) atau bersamaan dengan ‘illat ma’nawi ‘alamiyyah (isim ‘alam).



Ø ‘Illat ma’nawi washfiyyah / Isim sifat, dapat mencegah tanwin pada kalimat isim jika bersamaan dengan :

1.    ‘Adl (tahqiq) (  عدل تحقيق  )
Yaitu kalimat isim yang pindahan dari lafadz lain.
Ini terbagi menjadi dua macam :
a.    Isim yang mengikuti wazan فُعاَلٌ   Dan مَفْعَلٌ   yang menjadi pindahan dari bilangan yang di ulang-ulang mulai dari bilangan satu sampai sepuluh.
Contoh   : اُحاَدُ      Pindahan dari وَاحِدٌ واَحِد      
ثُناَءُ           Pindahan dari     اِثْنَيْنِ اثْنَيْنِ
موحد  Pindahan dari  واَحِدٌ واَحِدٌ     

b.    Isim (sifat) berupa lafadz اُخَرُ pindahan dari lafadz  الآخَرُ / آخَرُ
Contoh   :  فَعِدَّة ٌمِنْ اَيّاَمٍ اُخَرَ
   مَرَرْتُ بِنِسآءٍ اُخَرَ
‘Illat wshfiyyah kembali pada ma’na dan ‘adl kembali pada lafadz. Dan ‘adl semacam itu di sebut ‘adl tahqiqi.
2.    Wazan fi’il.
Mengikuti wazan اَفْعَلُ apabila mu’annatsnya tidak memakai ta’ akan tetapi mengikuti wazan اَفْعِلآءُ
Contoh :
اَحْمَرُ            Mu’annatsnya  حَمْرآءُ
‘illat washfiyyah kembali pada ma’na,sedang wazan fi’il kembali pada lafadz.

3.    Tambahan Alif dan Nun. (  زيادة الألف و النون  )
Yaitu isim yang akhirannya mendapat tambahan alif dan nun. Dengan syarat mengikuti wazan  فَعْلآنُ yang mu’annatsnya tidak menggunakan ta’,akan tetapi mu’annatsnya mengikuti wazan  فَعْلىٰ
Contoh       :  سَكْراَنَ Mu’annatsnya   سَكْرٰى  
               غَضْباَنَ  Mu’annatsnya   غَضْبٰى
               عَطْشاَنَ Mu’annatsnya   عَطْشٰى
‘Illat washfiyyah kembali pada ma’na,sedang ziyadah alif nun kembali pada lafadz.
Ø ‘illat ma’nawi ‘alamiyyah (nama) dapat mencegah tanwin pada kalimat isim jika bersamaan dengan :

1. ‘adl (taqdiri)  (  عدل تقديرى  )
Yaitu kalimat isim yang mengikuti wazan  فُعَلُ  yang dikira-kirakan pindahan dari wazan  فاَعِلٌ  (‘illat ‘alamiyyah kembali pada makna, sedangkan ‘illat ‘adl kembali pada lafadz).
Contoh       : 
عُمَرُ     Di kira-kirakan pindahan dari     عاَمِرٌ
   زُحَلُ     Di kira-kirakan pindahan dari     زَاحِلٌ
2. Wazan fi’il
ialah wazan yang khusus untuk fi’il atau kebanyakan digunakan untuk fi’il (‘illat ‘alamiyyah kembali pada makna, sedangkat ‘illat wazan fi’il kembali pada lafadz).
Contoh       :  يَشْكُر   (nama orang),   اَحْمَد       (nama orang)
                  
Wazan fi’il yang khusus untuk fi’il yaitu:
1.      فُعِلَ                                     4. تَفَعَّلَ
2.      فَعَّلَ                                     5. يُفَعْلِلُ
3.      اِسْتَفْعَلَ                                 6. فَعْلَلَ

Sedangkan wazan yang kebanyakan masuk pada fi’il yaitu:          
    1.Wazan fi’il amar tsulasi mujarrod. Seperti :  اِثْمِرْ                                  
   2. Wazan fi’il mudlori’ yang dari tsulasi mujarrod. Seperti :  يَشْكُر , يَزِيْد
Adapun wazan yang berlakunya banyak pada isim yaitu seperti yang mengikuti wazan  فَعَلٌ  maka tetap menerima tanwin. Seperti مَرَرْتُ بِحَسَنٍ
1.    Tarkib mazji. (Apabila tidak diakhiri dengan lafadz  وَيْهٍ )
Tarkib mazji adalah setiap dua isim yang dijadikan satu kalimat. Yang mana lafadz keduanya menempati ta’nya isim mufrod, maksudnya peng-I’roban berada pada lafadz akhir, untuk yang pertamanya mabni fath apabila tidak berupa huruf ‘illat akhirnya, sebagaimana ta’nya isim mufrod (‘illat ‘alamiyyah kembali pada makna dan ‘illat tarkib mazji kembali pada lafadz).
Contoh       :  حَضْرَ مَوْتَ   (nama kota),   مَعْدِيْكَرِبَ
2.    Tambahan Alif dan Nun. (  زيادة الألف و النون  )
Yaitu kalimat isim yang akhirnya mendapat tambahan alif dan nun dengan syarat isim tersebut mengikuti wazan  فِعْلآنُ - فَعْلآنُ  فُعْلآنُ -   (‘illat ‘alamiyyah kembali pada makna sedang ‘illat ziyadah alif nun kembali pada lafadz).
Contoh       :  عُثمآنَ  -  حَمْداَن  -  عِمْرَانُ   (Nama orang)

3.    ‘ajam. (  عجم  )
Yaitu nama yang berasal dari selain bahasa arab (‘illat ‘alamiyyah kembali pada makna, sedang ‘illat ‘ajam kembali pada lafadz).
Contoh       :  اِبْراَهِيْمَ – كَرْمِيْنْطَ

4.    Ta’nis yang tidak menggunakan huruf alif.
Ta’nis ada tiga;
1.    Dengan alif (mamdudah dan maqsuroh)
2.    Dengan ta’
3.    Tidak dengan alif dan tidak dengan ta’ yang disebut dengan ta’nis ma’nawi.

-       Untuk ta’nis dengan ta’ maka wajib dilakukan isim ghoiru munshorif secara mutlak, baik untuk nama wanita seperti  خَدِيْجَة - فَاطِمَةَ  atau untuk nama laki-laki, seperti  حَمْزَة - طَلْحَة  Dan baik hurufnya cuma tiga, seperti  ثُبَة  Atau lebih,-
 seperti  هُرَيْرَة  dan baik tiga huruf yang berharakat semuanya, seperti  هِبَةَ  atau yang tengah mati, seperti  بَلْهَ

-       Sedang untuk ta’nis ma’nawi dilakukan isim ghoiru munshorif apabila menetapi salah satu dari empat syarat :
1.    Hurufnya lebih dari tiga, seperti :  زَيْنَبَ - سُعلَدَ
2.    Hurufnya tiga dan huruf yang tengah berharakat, seperti :  سَقَرَ
3.    Hurufnya tiga yang tengah mati tetapi alam ajam, seperti: خِمْصَ
4.    Nama laki-laki yang dibuat nama perempuan, seperti :  زَيْدٌ

Jika salah satu dari empat syarat ini tidak ditemukan maka boleh di munshorifkan dan di ghoiru munshorifkan. Seperti :  هِنْدٌ


Ø Isim ghoiru munshorif apabila dimudlofkan atau terletak sesudah ال, maka harus di jerkan dengan tanda kasroh walaupun tidak di tanwin.
 Contoh :  مَرَرْتُ بِأَحْمَدِكُمْ    -   بِالْمَساَجِدِ

v  I’rob Jazem mempunyai tiga tanda :
1.      Sukun
2.      Membuang huruf ‘illat
3.      Membuang huruf nun

1.    Harokat Sukun  menjadi tanda i’rob jazem bertempat pada satu tempat yaitu Fi’il Mudlori’ shohih akhir (فعل مضارع صحيح الأخر) ialah Fi’il mudlori’ yang huruf akhirnya tidak berupa huruf ‘ illat (ا  -  و  -  ي      )
Contoh       :لَمْ يَعْلَمْ -  لَمْ يَصْلُحْ 

2.    Membuang huruf  ‘illat menjadi tanda i’rob jazem bertempat pada satu tempat yaitu :
Fi’il mudlori’ mu’tal akhir (فعل مضارع معتل الأخر) ialah Fi’il mudlori’ yang huruf akhirnya berupa huruf ‘illat (ا  -  و  -  ي      )
Contoh       :   لَمْ يَخْشَ   asalnya   -  لَمْ يَخْشَىْ    لَمْ يَرْمِ asalnya   لَمْ يَرْمِىْ

3.    Membuang huruf  Nun menjadi tanda i’rob jazem bertempat pada satu tempat yaitu :
Af’alul Khomsah (افعال الخمسة)
Contoh       : لَمْ يفْعَلاَ  -  لَمْ تَفْعَلاَ  -  لَمْ يَفْعَلُوْا  -  لَمْ تَفْعَلُوْا  -  لَمْ تَفْعَلِيْ    

MU’ROB DAN MABNI (المُعْرَب وَ اْلمَبنْىِ)
Mu’rob
Ialah kalimah yang bentuk atau harokat akhirnya dapat berubah sesuai dengan kedudukannya dalam suatu jumlah. Kalimah mu’rob ada dua yaitu :
1.    Mu’rob dengan harokat
2.    Mu’rob dengan huruf

Sebagaimana yang tertera dalam tabel berikut.
No
Kalimah Mu’rob
Contoh
Rofa’
Nashob
Jer
Jazem
1
Dengan harokat
Isim mufrod
جَلَسَ عَلِىٌّ
 رَاَيْتُ عَلِيّاً
 مَرَرْتُ بِعَلِىٍّ
-
2
Isim jama’ taksir
قاَمَ الرِّجاَلُ
رَاَيْتُ رِجاَلاً
مَرَرْتُ بِرِجاَلٍ
-
3
Isim jama’ mu’annats salim
قَعَدَتْ الـمُسْلِماَتُ
رَاَيْتُ الـمُسْلِماَتُ
مَرَرْتُ بِالْمُسْلِماَتِ
-
4
Fi’il mudlori’
يَجْلِسُ كَرِيْمٌ
اَنْ يَجْلِسَ كَرِيْمٌ
-
لَمْ يَجْلِسْ كَرِيْمٌ
1
Dengan huruf
Isim tasniyyah
جَاءَ رَجُلاَنِ
رَاَيْتُ رِجَالَــيْنِ
مَرَرْتُ بِرِجَالَــيْنِ
-
2
Isim jama’ mudzakkar salim
جَاءَ مُسْلِمُوْنَ
رَأَيــْتُ مُسْلِمِيْنَ
مَرَرْتُ بِمُسْلِمِيْنَ
-
3
Asma’ul khomsah
جاَءَ اَبــُوْكَ
 رَاَيْتُ اَباَكَ
مَرَرْتُ بِاَبِيْكَ
-
4
Af’alul khomsah
يَنْصُراَنِ
لَنْ يَنْصُراَ
-
لَمْ يَنْصُراَ

Kalimah mu’rob dengan harokat di atas semuanya di rofa’kan dengan dlommah, di nashobkan dengan fathah, dan di jer kan dengan kasroh.kecuali :
1.    Isim jama’ mu’annats salim (nashob dengan kasroh)         :رَأَيــْتُ اْلـمُسْلِماَتِ 
2.    Isim ghoiru munshorif (jer dengan fathah)                        :بِتُّ بِمَكَّةَ  
3.    Fi’il mudlori’ mu’tal akhir (jazem dengan membuang huruf ‘illat) :لَمْ يَرْمِ 

Mabni

Ialah kalimah yang bentuk atau harokat akhirnya tidak dapat berubah, meskipun kedudukannya dalam suatu jumlah berubah.


Adapun kalimah isim yang berhukum mabni itu ada enam, yaitu :
No
Isim mabni
Keterangan
Seperti
1
Isim Dlomir
(اسم ضمير)
Ialah isim yang menunjukkan arti kata ganti orang pertama, orang kedua atau orang ketiga.
هُوَ- هُماَ- هُمْ- هِيَ- هُماَ- هُنَّ- اَنتَ- اَنْتُماَ- اَنـــْتُمْ- اَنْتِ- اَنْتُماَ- اَنْتُنَّ- اَناَ- نَحْنُ  
 (contoh: هُوَ رَجُلٌ عاَلِمٌ )
2
Isim Maushul
(اسم موصول)
Ialah isim yang baru bisa menunjukkan sesuatu yang tertentu setelah dirangkaikan dengan shilah.(jumlah yang jatuh setelah isim maushul)
الَّذِى- الَّذَانِ- الَّذِيْنَ
الَّتِى- الَّتاَنِ- اللَّآئىِ
مَنْ- ماَ
 (contoh: زَيْدٌ الَّذِى قَامَ )
3
Isim Syarat
(اسم شرط)
Ialah isim mabni yang menghubungkan diantara dua jumlah, jumlah yang pertama merupakan syarat bagi jumlah yang ke dua.
مَنْ- ماَ- اَىٌّ- مَتىَ- مَهْماَ- اَيـــْنَ- أَنىَّ- حَيْثُماَ- اِذْماَ
(contoh: مَنْ يَنْصُرْ اَنْصُرْ )
4
Isim Isyaroh
(اسم اشارة)
Ialah isim yang menunjukkan sesuatu yang tertentu, baik isyarat dengan tangan atau lainnya.
هٰذاَ- هٰذاَنِ- هٰؤُلآءِ- هٰذِهِ- هٰتاَنِ-هٰؤُلآءِ - ذٰلِكَ- ذَانِكَ- اُولۤئِكَ- تِلْكَ- تاَنِكَ- اُولۤئِكَ
(contoh: هٰذاَ قَلَمٌ  )
5
Isim Istifham
(اسم استفهام)
Ialah isim mabni yang digunakan untuk menanyakan sesuatu.
هَلْ- اَيْنَ- كَمْ- كَيْفَ
(contoh: كَيْفَ حَالُكَ   )
6
Isim fi’il
(اسم فعل)
Ialah isim yang mengandung ma’na fi’il, akan tetapi tidak menerima tandanya.
هَيْهاَتَ Bermakna بَعُدَ
قَطُّ     Bermakna يَكْفِى
(contohهَيْهاَتَ زَيْدٌ مَسْكَناً  )
Isim-Isim mu’rob dan Isim-Isim yang berhukum mabni
Isim Mu’rob
1
Isim mufrod
Isim Mabni
1
Isim Dlomir
2
Isim tasniyyyah
2
Isim Maushul
3
Isim jam’ taksir
3
Isim Syarat
4
Isim jama’ mudzakkar salim
4
Isim Isyaroh
5
Isim jama’ mu’annats salim
5
Isim Istifham
6
Asma’ul khomsah
6
Isim fi’il
MACAM-MACAM FI’IL (الأَفْعاَل)
Fi’il ada tiga, yaitu :
1.    Fi’il Madli  : Ialah kalimat yang menunjukkan arti pekerjaan dan bersamaan dengan zaman yang telah lampau.
Contoh :  فَتَحَ    (telah membuka), نَصَرَ زَيْدٌ بَكْراً   (Zaid telah menolong bakr)

2.    Fi’il Mudlori’ : Ialah kalimat yang menunjukkan arti pekerjaan dan bersamaan dengan zaman hal (sekarang) atau zaman mustaqbal (akan datang), dan didahului oleh huruf mudloro’ah ( ا – ن – ي – ت )
Contoh :  يَجْلِسُ فَرِيْدٌ   (farid sedang/akan duduk),  يَفْتَحُ عَلِىٌّ البَابَ   (Ali sedang/akan membuka pintu)

3.    Fi’il ‘Amar :Ialah kalimat yang menunjukkan arti perintah yang bersamaan dengan zaman mustaqbal (akan datang).
Contoh : اِضْرِبْ  (pukullah),  اَكْرِمْ زَيْدًا  (mulyakanlah zaid)
Adapun hukum-hukum fi’il tersebut, adalah sebagai berikut :
1.    Fi’il Madli berhukum mabni, dan mabninya ada tiga, yaitu :
a.    Mabni fathah, apabila tidak bertemu wawu jama’[3] dan dlomir rofa’ mutaharrik[4]
      Contoh   :  صَانَ , اَكْرَمَ
b.    Mabni dlommah, apabila bertemu dengan wawu jama’
      Contoh   :  نَصَرُوْا , قَعَدُوْا
c.    Mabni sukun, apabila bertemu dengan dlomir rofa’ mutaharrik
      Contoh   :  نَصَرْنَ , نَصَرْتَ , نَصَرْتُماَ , نَصَرْتُمْ , نَصَرْتِ , نَصَرْتُماَ , نَصَرْتُنَّ , نَصَرْتُ , نَصَرْناَ
2.    Fi’il Mudlori’ berhukum mu’rob, apabila tidak bertemu dengan nun taukid atau Nun jama’ niswah, dan jika bertemu dengan dua hal tersebut maka berhukum mabni.
a.       Mu’rob, apabila tidak bertemu nun taukid atau Nun jama’ niswah[5].
Contoh :  يَكْتُبُ  (Rofa’), اَنْ يَكْتُبَ  (nashob),  لَمْ يَكْتُبْ (jazem)
b.      Mabni fathah, apabila bertemu nun taukid[6].
Contoh :   لَمْ يَضْرِبَنَّ , يَجْلِسَنْ
c.       Mabni sukun, apabila bertemu nun jama’ niswah.
Contoh : يَفْتَحْنَ , لَنْ يُكْرِمْنَ
3.    Fi’il amar berhukum mabni, dan mabninya ada tiga, yaitu :
a.       Mabni Sukun, apabila Shohih akhir dan Tidak bertemu sesuatu[7].
Contoh :  اَكْرِمْ , اَحْسِنْ
b.      Mabni membuang huruf ‘illat, apabila Mu’tal akhir dan tidak bertemu sesuatu.
Contoh :  اُغْزُ      asalnya  اغْزُوْ
c.       Mabni membuang nun tanda rofa’, apabila Bertemu :
-          Alif tasniyyah, contoh                               : انْصُرَا  asalnya انْصُرَانِ
-          Wawu jama’, contoh                                 : انْصُرُوْا  asalnya انْصُرُوْنَ
-          Ya’ mu’annats mukhotobah, contoh         : انْصُرِيْ  asalnya انْصُرِيْنَ
Amil nawashib (amil yang menashobkan fi’il mudlori’) itu ada sepuluh yaitu :
No
Amil
Arti
Contoh
Jawa
Indonesia
1
اَنْ
yentho
-
يُعْجِبُنِى اَنْ تَقُوْمَ
2
لَنْ
Ora bakal
Tidak akan
لَنْ يَقُوْمَ زَيْدٌ
3
اِذَنْ
Dumada’an
Tiba tiba/seketika
زُرْتُكَ فَتَقُوْلُ اِذَنْ اُكْرِمَكَ
4
كَىْ
Supoyo
Supaya
اَقْرَأُ كَىْ اَفْهَمَ
5
لاَمُ كَىْ
Kerono/supoyo
Supaya
اِنَّا اَنْزَلْناَ اِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ
6
لاَمُ اْلجُحُوْد
Drapun
-
لَمْ يَكُنِ اللهُ لِيَغْفِرَلَهُمْ
7
حَتّٰى
Sehinggo
Sehingga
اَسْلِمْ حَتّٰى تَدْخُلَ اْلجَنَّةَ
8
فاء سَبَبِيَّة
Mongko sebabe
Maka sebabnya
اَقْبِلْ فَاُحْسِنَ اِلَيْكَ
9
وَاوُ مَعِيَّة
Sartane
Serta
اِتَّقِ اللهَ وَتَعْمَلَ صَالِحاً
10
اَوْ
Ora/maring
Tidak/kepada
لَأَقْتُلَنَّ اْلكَافِرَ اَوْ يُسْلِمَ

Amil jawazim (amil yang menjazemkan fi’il mudlori’) itu ada delapan belas yaitu
No
Amil
Fungsi
Arti
Contoh
Jawa
Indonesia
1
لَمْ
Menjazemkan satu fi’il mudlori’
Ora
Tidak
لَمْ يَفْتَحْ زَيْدٌ الباَبَ
2
لَمَّا
لَمَّا يَضْرِبْ زَيْدٌ
3
اَلَمْ
Onoto wes ora
Apakah sudah tidak
اَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ
4
الَمَّا
اَلَمَّا اُحْسِنُ اِلَيْكَ
5
لام اَمْر
Supoyo
Supaya/hendaklah
لِيَنْصُرْ كَرِيْمٌ سَعِيْدًا
لام دُعَاء
Mugo mugo
Semoga
لِيَغْفِرْنَا رَبُّنَا
6
لا نـَهِى
Ojo
Jangan
لاَ تَحْزَنْ اِنَّ اللهَ مَعَنَا
لا دُعَاء
رَبَّنَا لَا تُعَذِّبْنَا
7
إنْ

Menjazemkan dua fi’il mudlori’.
Lamun
Apabila
اِنْ يَقُمْ فَرِيْدٌ تَقُمْ فاَطِمَةُ
8
مَا
Endi-endine barang
Selama/mana saja
وَمَا تَفْعَلُوْا يَعْلَمْهُ اللهُ
9
مَنْ
Sopo wonge
Barangsiapa
مَنْ يَجْلِسْ اَجْلِسْ
10
مَهْمَا
Semongso mongso/endi
Kapan kapan
مَهْمَا تَنْصُرْ اَنْصُرْ
11
اِذْمَا
Lamun
Apabila
اِذْمَا تَفْعَلْ اَفْعَلْ
12
اَيٌّ
Endi endi
Siapa saja
اَيُّهُمْ يَقُمْ اَقُمْ
13
مَتٰى
Kapan
Kapanpun
مَتٰى تَأْكُلْ اٰكُلْ
14
اَيّاَنَ
Endi endi
Siapa saja
اَيَّانَ تَعْدِلْ اَعْدِلْ
15
اَيْنَ
Ingdalem endi enggon
Dimana saja
اَيْنَمَا تَنْزِلْ اَنْزِلْ
16
اَنّٰى
اَنّٰى تَطْلُبْ العِلْمَ تَرْبَحْ
17
حَيْثُمَا
حَيْثُمَا تَسْتَقِمْ تَرْبَحْ
18
كَيْفَمَا
Koyo piye
Bagaimanapun
كَيْفَمَا تَجْلِسْ اَجْلِسْ

Adapun اذا  bisa menjazemkan fi’il mudlori’,tapi khusus dalam syi’ir.
Contoh            : وَاِذَا تُصِبْكَ خَصَاصَةٌ فَتَحَمَّلَ  *  .....

ISIM-ISIM YANG DI BACA ROFA’ (مَرْفُوْعاَتِ اْلأَسْماَء)
Kalimat isim harus di baca rofa’ pada tujuh tempat yaitu :
No
Isim marfu’
Seperti
Contoh
1
Fa’il
سَعِيْدٌ
حَضَرَ سَعِيْدٌ اَماَمَ اْلـمَدْرَسَةِ
2
Na’ibul fa’il
حُضِرَ سَعِيْدٌ فِى اْلفَصْلِ
3
Mubtada’
سَعِيْدٌ حاَضِرٌ فِى اْلحَفْلَةِ
4
Khobar mubtada’
اَخِيْ سَعِيْدٌ
5
Isimnya   كان
كَانَ سَعِيْدٌ عاَلِمًا
6
Khobarnya   إنّ
اِنَّ اَخاَكَ سَعِيْدٌ
7
Tawabi’ a). Na’at
جَمِيْلَةٌ
هٰذِهِ تِلْمِيْذَةٌ جَمِيْلَةٌ
              b). Athof
فاَطِمَةُ
جَلَسَتْ عاَئِشَةُ ثُمَّ فاَطِمَةُ
              c). Taukid
نَفْسُهَا
حَضَرَتْ الفاَطِمَةُ نَفْسُهَا
              d). Badal
اُسْتَاذُكَ
جَاءَ سَعِيْدٌ اُسْتَاذُكَ

FA’IL (فاَعِل)
Fa’il (Subyek) adalah kalimat isim yang di baca rofa’ yang jatuh setelah fi’il (kata kerja).
Fa’il  terbagi dua yaitu :
1.      Fa’il isim dhohir (ظاهر)
Contoh            :  فَتَحَ عَلِيٌّ الباَبَ

2.      Fa’il isim dlomir (ضمير / kata ganti)
Contoh            :فَتَحْتُ اْلباَبَ 




Adapun pembagian fa’il adalah sebagaimana yang tertera dalam tebel berikut :
Fa’il
Dhohir
فَتَحَ عَلِيٌّ الباَبَ
Dlomir
Munfashil
Ghoib/ghoibah
لَمْ تَذْهَبْ اِلاَّهِىَ - ماَ ذَهَبَ اِلاَّهُوَ
Mukhotob/mukhotobah
لَنْ تَذْهَبَ اِلاَّ اَنْتِ – لَا يَذْهَبُ اِلاَّ اَنْتَ
Mutakallim
ماَ ذَهَبَ اِلاَّ اَناَ – لَا يَذْهَبُ اِلاَّ نَحْنُ
Muttashil
Bariz
Alif tasniyyah
ذَهَباَ – يَذْهَباَنِ
Wawu jama’
نَصَرُوْا – يَنْصُرُوْنَ
Dlomir rofa’ mutaharrik
جَلَسْنَ – يَجْلِسْنَ
Mustatir
Ghoib/ghoibah
ذَهَبَ – ذَهَبَتْ – يَذْهَبُ
Mukhotob/mukhotobah
تَذْهَبُ – اَذْهَبُ
Mutakallim
اَذْهَبُ – نَذْهَبُ

·      Dlomir munfashil   (ضمير منفصل)        :ialah dlomir yang dapat di buat mubtada’ dan dapat mengiringi lafadz الاّ  pada waktu bebas (bukan dlorurat syi’ir)
·      Dlomir muttashil (ضمير متصل)            :ialah dlomir yang tidak dapat di buat mubtada’ dan tidak dapat mengiringi lafadz الاّ  pada waktu bebas (bukan dlorurat syi’ir)
·      Bariz (بارز / tampak)                         :ialah dlomir yang lafadznya ada bentuknya
·      Mustatir (مستتر / tersimpan)              :ialah dlomir yang lafadznya tidak ada bentuknya dan tidak mungkin di ucapkan tetapi ada dalam perkiraan
·      Ghoib/ghoibah (غائب/غائبة)                 :kata ganti orang ke tiga
·      Mukhotob/mukhotobah (مخاطب/مخاطبة):kata ganti orang kedua
·      Mutakallim (متكم)                            :kata ganti orang pertama
·      Alif tasniyyah (الف تثنية)                    :alif yang menunjukkan arti dua

NA’IBUL FA’IL (ناَئِبُ اْلفاَعِل)
Na’ibul fa’il adalah isim yang di baca rofa’ untuk mengganti kedudukan fa’il yang  telah di buang. Atau isim yang di baca rofa’ yang jatuh setelah fi’il mabni majhul.
Adapun cara membuat fi’il menjadi mabni majhul (مبنى مجهول / kalimat pasif)adalah










Tidak ada komentar:

Poskan Komentar